Cerpen (Kucingku Vera)

Bismillah..

Dapet tugas dari guru B. Indonesia disuruh bikin cerpen dari pengalaman sendiri. selamat membaca🙂

Awalnya aku tak punya keinginan untuk memiliki atau bahkan memelihara seekor kucing. Sampai suatu saat kakak membawa sebuah keranjang. Entah apa isi keranjang yang dibawanya itu. Akupun penasaran, aku hanya memandangi keranjang itu. “Aneh, serasa ada yang bergerak dalam keranjang itu” tanyaku dalam hati ketika melihat dari lubang lubang kecil yang ada pada keranjang itu. “Loh ko kenapa seperti ada sesuatu di dalam sana? Tapi tak bersuara?” aku semakin penasaran. Akupun bergegas menghampiri keranjang itu. Ku buka pelan-pelan tutup keranjang itu, “Kreeeek!! Meong.. meong..” Aaaah ternyata seekor kucing kecil yang ada di dalam! Aku mulai senang. Hatiku mulai bergembira melihat ada seekor kucing kecil yang umurnya mungkin baru 3minggu. Memang aku tak terlalu suka kucing, juga tak merasa takut akan kucing. Tapi setelah melihat kucing itu mengapa aku berbahagia? Mengapa aku senang? Tanyaku dalam hati.

“hey.. kucing siapa ini? Darimana?” teriakku di dalam rumah agar semua yang ada mendengarkanku. “Kucing kaka ini. Awas kamu!” ketus kakak. “Darimana?” tanyakku. “Dari kak adip.” Jawab kakak. “Oh, kucing apa ini? Aneh sekali. Dibilang kucing angora tapi bulunya tak lebat seperti jenisnya. Dibilang kucing biasa tapi bulunya sedikit lebih tebal.” Tanya ku pada kakak. “Banyak tanya kamu ini. Sudah, beli makanan sana!” suruh kakak. “Iya, belinya apa? Tanyaku. “Sosis, daging atau ikan aja!” jawabnya. “Aish.. ini kucing atau pacarmu ka? Istimewa sekali rasanya.” Gerutuku. Aku pun bergegas membeli makanan untuk kucing kecil yang tak bernama itu. Sepanjang jalan aku merasa iri, kucing kecil seperti itu saja diperhatikan oleh kakak, tapi aku adiknya sebesar ini tak pernah tuh diperhatikan seperti itu.

“Ini tuan makanannya! Silahkkan. Adanya sosis aja yang murah, gampang dan dekat.” Katakku. “push push push.. makan nih makan!” kata kakak. “Apa apaan sih ini orang bisa sayang kaya gini gitu sama kucing?” heranku dalam hati. “Ini cewe cowo?” tanyakku. “Cewe!” jawab kakak. “Oh pantesan..” tembalku. “Pantesan apa?” Tanya kakak. “Pantesan kamu merhatiin kucing ini. Ternyata dia ceweeee! Hahahaha.”

Ini kucing makanannya harusnya apa sih? Ini kucing apa kenapa gajelas kaya gini jenisnya? Tanyaku dalam hati sambil melihat kucing itu. “meong!!! Warwww” aw kucing ini menggigitku! Ku dekati dia, eh dia malah menghindar dan masuk ke dalam sela-sela lemari. Lama-lama kucing ini mengeluarkan suara mendesis, serak-serak basah. Mulutnya terbuka lebar, badannya membungkuk seperti siap-siap akan meloncat dan “Brakkkk” ku gebrakkan kakiku ke lantai. Kucing itu semakin masuk ke dalam celah lemari. Entah apa yang ia lakukan selama beberapa jam disana. Ku tunggu dan ku panggil berulang kali tapi ia tak menghiraukan suaruku itu. Akupun kesal, aku geser-geser lemari itu supaya ia mau keluar. Ku pegang kucing kecil itu dan ku ajak ia bermain.

Kucing ini sepertinya masih malu-malu dan takut pada manusia. Sediki-sedikit aku menggerakan benda atau anggota tubuhku ia langsung menghampiriku dan langsung menjauh kembali. Tak kubiarkan kucing ini keluar dari rumah. Aku takut dia takkan kembali.

Lama kelamaan hanya aku yang memperhatikan kucing itu. Kakaku yang awalnya sangat memperhatikan kucing itupun kini mulai acuh. Apa apa harus aku yang melakukannya. Aku yang memberinya makan dan aku juga yang memandikanya. Aku mulai sayang dengan kucing ini dan ia seperti sahabatku yang selalu menghiburku saat aku sedih dan kesepian. Dengan tingkah tingkahnya yang terkadang lucu, aku bisa tertawa sendiri.

Ketika aku mulai sayang dengan kucing ini, yaaa aku teringat aku belum memberikan ia nama. “Namanya siapa ya? Pussy? Miaw? Atau apa?” tanyaku dalam hati. Lalu aku menghampiri kakakku yang berada di kamarnya. “Hey, siapa nama kucing ini?” tanyakku. “Hmmm.. Last Vera, yeaah Vera!” jawab kakakku. “Maksudmu apa? Itu sepertinya aku tau nama itu! Itukan nama restaurant di serial drama korea PASTA?” Tembalku. “Yaaah itu kamu tau! Sudah namanya vera aja!” tegas kakakku. Serial drama PASTA memang adalah kesukaan kami, jadi kami memutuskan untuk member nama kucing kami Verav. “Oh iya kak bagus juga. Nama panjangnya apa ya? Vera aulia sanuari? Hahaha” ejekku.

“Eh kak, ini jenis kucing apa?” tanyaku. “Ini angora” jawab kakak. “Hah? Apaan ini mah kaya kucing biasa da. Bentuk mukanya aja engga bulet.” Tembalku yang semakin penasaran. “Ini kucing belasteran neeeng!” jawab kakak. “Maksudnya?” tanyaku lagi. “Euh dasar oon, ini ibunya angora si moni yang di rumah kaka dip. Terus dikawinin sama bapaknya kucing local biasa. Jadinya ya kaya gini rada kampungan sikap kucingnya. Engga pendiem, rada bringas gitu!” tembal kakak. “Oh pantesan atuh ini kucing belasteran toh hahaha pantesan gasuka diem” jawabku.

“Vera.. vera siniii.. waktunya kamu makan!” panggilku. Mungkin kucing ini belum terlalu mengerti hingga ia tak mendengarkan panggilan namanya. Yah butuh waktu yang lama untuk bisa membuat ia mengerti dan butuh waktu yang lama juga agar ia bisa beradaptasi dengan lingkungan barunya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s